(Source: daily-disney, via rizkyajrina)
Makadi Palace, Hurghada, Egypt
Oh oh, I want some more
Oh oh, What are you waiting for
Take a bite of my heart tonight
Oh oh, I want some more
Oh oh, What are you waiting for
What are you waiting for
Say goodbye to my heart tonight
—Neon Trees - Animal
Menuliskan isi pikiran
Gue butuh nulis, menulis untuk sekedar menghilangkan monster-monster pikiran di kepala gue yang terus-terusan membombardir dengan berbagai macam pertanyaan yang gue bahkan nggak yakin ada jawabannya. Salah satu jalan untuk tetap mempertahankan kewarasan adalah dengan nulis. So, here I go now trying to write my thoughts as honest as possible.
Peringatan dini: Tulisan ini penuh cerita curahan isi hati. Silahkan dilewat kalau lagi bermood baik :)
2012. Oke. Akhir 2011, gue akhirnya bergerak dari satu titik stagnan dalam fase hidup gue. Menerima sepenuhnya bahwa memang seseorang itu bukan untuk gue dan bersyukur karenanya. Meskipun nggak mengubah fakta juga bahwa love story gue gak jauh beda dari fiksi2/sinetron2 yang sering dihujat itu. LDR, orang ketiga, ditinggal nikah. Silahkan simpulkan sendiri ceritanya. Hehehe. Kembali ke 2012. Belum juga genap 30 hari pertama di tahun baru lewat, love story gue lagi-lagi berasa episode serial tv manaa gitu. Belum jelas akhirnya sih, tapi kali ini gue capek untuk merasa sedih terus-terusan. Life is short, dan selagi gue masih bisa, gue bakal tetep berjuang :). Meskipun gue tau taruhannya besar, tapi menurut gue itu sebanding dengan apa yang gue perjuangin. I hope you read this now ;).
Loh kok tulisannya ga jadi sedih? hahahaha. Awalnya gue mau nulis ini buat ngelepasin sedih2 tapi kok ujung2nya jadi males ya nulis yg bikin sedih gitu. Hehehe.
Kadang-kadang buat merasa bahagia itu sederhana sekali, tapi kadang-kadang juga rasanya suliiiiitt banget buat merasa bahagia. Life has its balance, I guess. Di satu waktu, gue bisa bahagia hanya dengan duduk di kasur-melihat ke jendela-hujan-plus iPod dan lagu2 semacem John Mayer atau Buble-kadang ditambah fiksi kesukaan gue. Lain waktu bahagia bisa berbentuk sarapan bareng sebelum ngantor, makan cupcakes enak, a simple-nice-pleasant chat with friends, green tea latte yg creamy, koneksi internet lancar, family time lengkap sekeluarga berempat, ketemu temen-temen super gila super baik super super lainnya, sore yg cerah dan bisa liat sunset, children’s laughter, buku baru maupun lama, bau rumput-dan-tanah yg kena hujan, seeing the people I love smiles right at and because of me, and all of other things I don’t even remember when I have to count my happiness. Countless blessings, I know.
Tapi kadang bahagia itu rasanya bisa jadi susaaah banget ketika hidup seolah sedang sensi sama gue. Di waktu sibuk kerja, otak dan hati harus sinkron karena pada waktu yang bersamaan gue harus tetep mikir, terlihat profesional, ngasi ide brilian, cepet belajar, padahal di sisi lain perasaan gue lagi campuraduk nggak karuan dan rasanya pengen nangis aja guling2 di kasur atau malah kabur sekalian ke pinggir pantai dan lupa dunia.
Gue sadar banget sekarang gue sangat gampang untuk merasa insecure, khawatir, berpikiran negatif, dan takut. To be honest, I am afraid to be left again. Left for someone else. Often when my negative thoughts took control, I felt unworthy. Like I don’t deserve happiness. Gue tau seharusnya prinsip leave like you never love and love like you’ve never been hurt itu benar. Tapi luka itu mungkin selamanya bakal tetep ada. Sembuh, iya. My antibiotics works on that, stopping the chemical process called heartbroken. Tapi bekasnya akan selalu ada. Time doesn’t heal anything, I tell you, time is good at hiding and layering everything. Ah. Cerita lalu itu deng ya. Hehehe. Tapi, soal gue gampang takut-khawatir-insecure-berpikir negatif itu bener. Gue ada di kondisi sangat nyaman dengan seseorang tapi di balik itu semua gue tau gue berubah. Kemana gue yg dulu sangat percaya sama orang yg gue sayang? Sekarang yang ada bawaannya takut, khawatir. Takut ditinggal. Sesimpel itu. Gampang banget sekarang untuk bikin gue nangis atau ngerasa worry. Kemana gue yang dulu tough dan percayaan? Kenapa gue jadi fragile banget gini?
Gue cuma pengen love life yang normal. I love you, you love me, we’re gonna make a big (and happy) family. Grow old together. Eh, kok jadi ngomongin love life? hahahaha. Suka kemana-mana deh gue ini ya. Perasaan tadi ngomongin bahagia-bahagiaan. Sekarang rasanya di kepala sama hati gue campuraduk banget. Seneng, sedih, takut, khawatir, marah, excited, bingung, gengsi, sebel, kangen, semua deh keaduk-aduk jadi ga jelas. Apa yang tampak di luar udah jauh beda sama yang ada di hati. Oh, mungkin kecuali sama lo ya. hahaha. Gak bisa boong banget. Tapi entah kenapa gue sulit membaca lo akhir-akhir ini. Loh, ini ngomong sama siapa sih? Gila deh ya gue ini.. hahahahaha.
Mari menikmati hari Minggu ini dengan damai :)
You always hurt the one you love,
The one you shouldn’t hurt at all.
You always take the sweetest rose..
And crush it till the petals fall.
You always break the kindest heart
With a hasty word you can’t recall.
So if I broke your heart last night..
It’s because I love you most of all.
(Source: goddamnyourebeautiful)
(via shoelust)
Dont give up on me :)
It’s complicated for sure.
Difficult doesn’t mean impossible.
Love hurts but that doesn’t make it less beautiful.
Comfortable. Yet complicated at the same time.
Should I give up, or should I just keep on chasing pavements? Even if it leads nowhere.
Or would it be a waste, even if I knew my place.
Should I leave it there?
Should I give up or should I just keep chasing pavements?
Even if it leads nowhere….
(Adele - Chasing Pavements)
(Source: shoelust)
(via milkandkisses)